SANG PENGEMBARA DARI PINGGIRAN SUNGAI MUSI

Sang Pengembara, ya begitulah salah satu ungkapan orang tua ku pada diriku. Karena dari kecil menjadi anak yang memberikan warna dan pebedaan sendiri diantara saudara -saudara ku.

selama pengembaraanku banyak hal dan pengalaman hidup yang ku dapat. Sudah Hampir 25 tahun aku di tanah Jawa.tidak ada yang bisa membuatku bangga kecuali pengabdianku pada orang yang selalu menjadi tauladanku dari kecil hingga saat ini yaitu kedua orangtuaku.
karena rumah di kampung halaman ku tidak jauh dari aliran sungai musi. Masa kecilku banyak bermain di pinggir sungai hingga bisa berenang pun aku belajar dari situ juga bukan dikolam renang yang tanpa arus air yang deras.
sejak kelas 2 SD aku mencari ikan dari aliran sungai musi dengan belajar sama orang tua ku sendiri aku cepat bisa untuk melempar jala, menjaring ikan pake perahu, mancing, masang Tajur, Jampirai, bekarang dan lain-lain hingga menjadi sebuah hobi. 
Bermancam-macam lokasi tempatku mencari ikan baik disawah, di lubuk, di sungai dan lain-lain. Dengan nama-nama ikan sungai Baung, Lais, lampam,ikan paten, ikan tapa, ikan kejublang, ikan salontop, biran, saluang dll ( ikan sungai). Ikan keli (lele) , Ruan (gabus) betok, sepat dan belut ( ikan-ikan di sawah) .

Dari hasil mencari ikan lewat cara-cara diatas aku merasa bangga jika bisa mendapatkan ikan dan menjadi tambahan lauk untuk keluarga kami. Saking hobinya kadang-kadang aku terlambat masuk sekolah.

Selain itu untuk mengurangi waktuku bermain dikarenakan lingkungan ku sangat belum mendukung; sering terjadi perkelahian, perrjudian dan lain-lain.  BIJAKNYA dari kecilpun sudah diberi tanggung jawab oleh kedua orang tuaku seperti mengurus /mengembala kambing dari 2 ekor sampai berjumlah 6 ekor, burung Dara dari sepasang hingga 50 ekor, ayam kampung dari 2 pasang hingga 20 ekor  dimana ketika itu adik-adiku masih kecil semua.


Aku bersyukur dari pegalamanku di masa kecil hingga merantau menjadikan bekalku dan semangatku dalam pegembaraan sebagai orang rantauan.
Dengan bekal itu timenjadikan diriku tidak kenal lelah, selama merantau pengalaman pahit dan manis yang kualami mungkin tidak pernah dirasakan adik-adikkku dan bahkan kakakku bagaimana perjuangan hidup yang ku lalui.

hingga kini paling tidak masih bisa bantu orang tua dan adik-adikku menuntaskan sekolah/kuliah mereka serta aku sangat bersyukur dengan kondisi yang tidak lebih ke dua orang tua bisa berangkat naik HAji atasIjin NYA,  yang semakin menjadikanku pembelajaran atas tauladan yang diberikan orang tuaku.

Terimakasi Ibu dan bapakku semua atas berkat Do.a mu dan juga didikkan mu dalam mengarungi hidup ini, jujur dalam hati sangat ingin aku berada di samping kedua orang tuaku yang sudah masuk usia senja. 


Juga kakekku dari Ibu ku R. Supoyo Mitro suyitno yang juga banyak belajar dari beliau tentang kehidupan, tata krama, dan pengabdiannya mengamalkan Ilmunya selama di Dunia.


yang mungkin jika aku tulis semua tak kan habis sampai di sini. akan menjadi sebuah cerita bagaimana mereka mengilhami aku hingga bisa seperti saat ini.

salam

Tidak ada komentar