Museum Wayang Indonesia - Wonogiri Dari Masa Kecil Soeharto Sampai Koleksi Wayang di Indonesia

Museum Wayang Indonesia - Wonogiri
Dari Masa Kecil Soeharto Sampai Koleksi Wayang di Indonesia

 

Museum Wayang Indonesia - Wonogiri (SW/Hanafi Adnan Fauzi/2022)    
     Museum Wayang Indonesia - Wonogiri (SW/Hanafi Adnan Fauzi/2022)

Hai Sobat Seputar Wonogiri! Masih di seputaran Wonogiri, kami mau ngajak Sobat Seputar Wonogiri untuk melihat kebelakang tentang masa Kecil Presiden ke-dua RI Bapak Soeharto di Wonogiri dan Bagaimana Museum Wayang Indonesia di Wonogiri terbentuk.

Padepokan Pak Bei Tani

Presiden kedua Republik Indonesia Bapak Soeharto lahir di Kemukus, Yogyakarta tanggal 08 Juni 1921. Masa kecil beliau semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan Godean lalu pindah ke SD Pedes sampai suatu ketika beliau dipindahkan oleh ayahnya ke Wuryantoro, Wonogiri sekaligus dititipkan kepada pamannya yang bernama Prawirohadjo seorang mantri tani biasa juga dipanggil Pak Bei Tani.

Yups! di Museum Wayang Indonesia merupakan rumah dari Pak Bei Tani yang sekaligus menjadi tempat tinggal masa kecil Soeharto ketika di Wuryantoro, Wonogiri. Sebelum berdiri dan diresmikan sebagai museum wayang, tempat tersebut awalnya adalah rumah tinggl Pak Bei Tani paman sekaligus ayah angkat Soeharto. Dari wawancara penulis dengan Pak Rakino (Guide Museum), Rumah Pak Bei Tani sudah mengalami begitu banyak perubahan sebelum berdirinya Museum Wayang Indonesia. Terbukti pada tanggal 17 November 1987 telah selesai direnovasi kemudian diresmikan langsung oleh Ibu Tien Soeharto (Istri Presiden Soeharto) menjadi Padepokan Seni Pak Bei Tani.

Koleksi Wayang Purwa Versi Surakarta - MWI (SW/Hanafi Adnan Fauzi/2022)
     Koleksi Wayang Purwa Versi Surakarta - MWI (SW/Hanafi Adnan Fauzi/2022)

Museum Wayang Indonesia - Wonogiri

Museum yang terletak di Jl. Raya Wonogiri - Pracimantoro KM 13 Kec. Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah merupakan museum yang digagas oleh Bapak Begug Poernomosidi Bupati Wonogiri yang menjabat kala itu sekaligus seorang dalang yang sangat mencintai dunia wayang dan pedalangan. Alasan mengapa beliau memiliki inisiatif untuk membuat museum wayang lantaran banyaknya pengrajin wayang yang tersebar di Wonogiri khususnya wilayah Kecamatan Manyaran serta kultur masyarakat Wonogiri yang menganggap bahwa wayang bukan hanya sekedar hiburan masyarakat namun juga penuh dengan kesakralan yang dapat menjadi panutan dalam kehidupan selain itu banyaknya Empu Wayang yang ada di Wonogiri dianggap sebagai pahlawan seni wayang oleh Bapak Begug maka Museum Wayang Indonesia menjadi salah satu bentuk apresiasi untuk para pengrajin/Empu Wayang.

Dari data yang kami dapatkan dari Museum Wayang Indonesia setidaknya ada 384 koleksi wayang yang terdiri dari 17 jenis wayang dengan asal daerah yang berbeda-beda, diantaranya ada Wayang Kulit Purwo, Wayang Kardus, Wayang Kulit Mini, Wayang Potehi, Wayang Suket, Wayang Sadat, Wayang Beber, Wayang Ukur, Wayang Bali, Wayang Sasak, Wayang Klitik, Wayang Topeng, dsb. Beberapa wayang yang terdapat di Museum Wayang Indonesia merupakan pemberian dari berbagai dalang atau seniman diberbagai wilayah Indonesia sebagai bentuk apresiasi mereka terhadap museum.    

Sumur Drajat  (SW/Hanafi Adnan Fauzi/2022)
        Sumur Drajat  (SW/Hanafi Adnan Fauzi/2022)

Selain koleksi wayang dan beberapa bukti peninggalan masa kecil Soeharto, dibelakang bangunan museum terdapat Sumur Drajat yang mana adalah satu-satunya bangunan yang belum pernah mengalami perubahan sejak awal adanya Padepokan Pak Bei Tani bahkan Pak Rakino mengatakan Sumur Drajat ini sudah ada jauh sebelum Pak Soeharto bertempat tinggal disana semasa kecil. Sumur Drajat sampai sekarang juga masih dipercaya oleh beberapa orang sebagai sumur yang memiliki air dengan daya magis tertentu sehingga masih banyak yang mendatangi sumur tersebut untuk memenuhi hajat tertentu. Terlepas dengan kepercayaan dan unsur magis yang terdapat di Sumur Drajat, Pak Rakino menjelaskan bahwa Sumur Drajat memiliki keistimewaan dimana sampai sekarang belum pernah mengalami kekeringan walaupun terjadi kemarau panjang bahkan ketika sumur dirumah warga sekitar Museum Wayang Kering, Sumur Drajat tidak mengalamai kekeringan bahkan airnya sangat jernih dan segar.

Museum Wayang Indonesia yang dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri buka di Hari Senin-Minggu mulai pukul 08.00-14.00 dan tutup setiap Hari Jumat. Museum ini sangat cocok dijadikan sebagai wisata edukasi, akses yang begitu mudah bisa ditempuh dengan berbagai transportasi darat seperti motor, mobil maupun bus dengan jarak hanya kurang lebih 13 km dari pusat kota Wonogiri atau kurang lebih 30 menit. Untuk informasi lengkap mengenai Museum Wayang Indonesia bisa mengunjungi sosial media di Instagram @museumwayangwonogiri dan FB Museum Wayang Indonesia Wonogiri, kalau Sobat Seputar Wonogiri berencana reservasi museum bisa menghubungi kontak Bapak Rakino 081236911975.

 

 

Penulis : Hanafi Adnan Fauzi

Foto : Hanafi Adnan Fauzi

Tidak ada komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Dan jangan lupa tinggalkan komentar.
Salam